Menjadi Barista, Jangan Lihat Kerennya
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak aktivitas yang dilakukan mulai dari bangun tidur hingga malam kembali tertidur. Tanpa kita sadar beragam aktivitas yang kita lakukan, mungkin sudah berulang kali dan juga untuk pertama kalinya kita melakukan aktivitas itu. Saya sendiri menjadikan beragam ativitas itu sebagai rutinitas atau hanya sekedar mengisi waktu-waktu luang.
Di tahun 2018 awal, saya pernah mendaftar menjadi seorang barista tanpa pengalaman bekerja sekalipun di Pekanbaru. Saya merasa tahun pertama berkuliah tidak terlalu padat jadwal dan bisa untuk bekerja paruh waktu. Dan memang saya bisa menyesuaikan jadwal-jadwal itu jika di interview, memang tidak selalu bisa. Akhirnya satu bulan berlalu setelah banyak interview yang saya jalani tanpa ada satupun pemanggilan dari tempat saya melamar.
Tapi ada satu kedai kopi yang sudah kali ketiga saya datangi, lalu iseng bertanya kepada pekerja disana seputar lowongan kerja. Seminggu setelahnya yang hanya bercandaan saja bagi saya saat itu, saya langsung dipanggil untuk di interview kembali tapi tidak terlalu formal seperti kebanyakan. Saya ditanya latar belakang pendidikan, latar belakang mengapa saya ingin bekerja dan seputar pengetahuan saya tentang kopi juga alat-alat penyeduhan. Dengan santai saya menjawab seadanya dengan segala kesederhaan.
Namun, sang owner tanpa banyak-banyak bertanya hal lain dengan detail. Setelah saya menjelaskan semuanya, beliau menjelaskan kepada saya untuk bisa bekerja diluar jadwal kuliah atau bisa dibilang jadwal kerja menyesuaikan dengan jadwal kuliah. Tentu hal itu membuat saya bingung sekaligus senang, apakah tawaran ini pantas untuk saya yang sama sekali tidak pernah bekerja sebelumnya. Tapi inilah yang saya rasa sebuah ilmu langka yang saya terima saat ini.
Bekerja paruh waktu dengan aktivitas perkuliahan. Membuat diri saya semakin banyak belajar mengatur waktu yang saya punya. Terlebih punya tanggung jawab yang harus saya jaga dengan baik. Yaitu menjadi seorang barista perempuan, tidak hanya mempelajari alat penyeduhan dan jenis-jenis minuman berbaha kopi. Banyak hal lain diluar itu yang harus mampu saya kerjakan.
Salah satunya membersihkan alat-alat yang kotor, baik gelas dan keperluan lain. Menyapu dan membersihkan meja. Mengantar pesanan dan mengambil kembali gelas yang kotor. Terlebih lagi jika ada yang tumpah tanpa sengaja. Terlihat sederhana, tapi apa semua orang mau untuk melakukan hal semacam itu. Tapi inilah sebuah pekerjaan yang harus dijalankan dengan ikhlas dan disiplin.
Di kampus, setelah banyak teman saya yang mengetahui saya bekerja paruh waktu. Yang mereka komentari hanya keren-kerennya saja. Melihat dan mengomentari sisi luarnya saja. Apalagi ada yang ingin mengikuti jejak seperti saya. Mereka bertanya bagaimana bisa bekerja seperti saya. Pasti seru punya penghasilan sendiri, pasti keren kalau difoto untuk sosial media. Masih banyak lagi kalimat-kalimat seperti itu. Hingga akhirnya saya menjelaskan segala perjuangan dan proses yang saya lakukan.
Bahwa menjadi seorang mahasiswa dan bekerja paruh waktu itu. Tidak sekeren bayangan mereka, sebab banyak pekerjaan dibalik itu semua yang tidak mereka bayangkan. Apapun jenis pekerjaan itu tentunya sama saja. Kita diajarkan untuk memahami beragam aktivitas dibalik pekerjaan itu. Disiplin waktu menjadi salah satu kunci utama menjalankan setiap aktivitas.
Tanpa kita sadari, cukup sebagai mahasiwa dengan fokus dengan jurusan yang kita pelajari. Itu sudah mampu menjadi pelajaran baik dalam hidup. Sebab menjadi keren adalah kita yang mampu fokus dengan kajian pengetahuan dan paham dengan ilmu pengetahuan yang kita pelajari.
Jangan cepat menilai seseorang dari sisi terluar saja. Pahami dan pelajari segala sesuatu dari dalam dan luar seseorang. Semisal dengan saling mengingatkan dan menguatkan. Mengingatkan bahwa banyak hal baik yang bisa dilakukan dalam mengisi hari-hari. Atau sekedar menguatkan saja dengan aktivitas sendiri atau orang lain untuk fokus dalam aktivitas itu.
Siapa yang pernah tahu, bahwa hari kemarin, hari ini juga esok kita akan bertemu dengan siapa. Kita akan melakukan aktivitas apa. Bisa dibilang hidup itu adalah tentang rahasia dan teka-teki kehidupan, yang kita sendiri dengan segala rencana dan persiapan bisa saja tidak bisa dengan baik menjalankan rencana itu. Sebab itulah teka-teki kehidupan yang harus dijalankan.
Hidup tidak untuk keren-kerenan. Aktivitas yang biasa kita lakukan itulah sebuah pelajaran untuk melatih kesabaran. Tidak ada seseorang yang mencapai kebahagiaan dan kesuksesan dengan hanya berdiam diri dan hanya mengomentari hidup orang lain. Tapi lebih dari segalanya. Lebih dari semua yang terlihat keren hanya dari luar. Bersyukur dan ikhlas dengan apa yang sudah dijalankan.
Pada akhirnya, sebuah proses untuk sabar dan belajar sangat diperlukan dalam menjalankan segala rahasia dan teka-teki kehidupan ini. Jalani hidup dengan baik dan semaksimal kemampuan yang kita miliki.


Tidak ada komentar