Menderu Senja
Kebiasaan yang semakin pudar biasa dia lakukan.
Entah apa sebab dan alasannya aku merasa itu berbeda aku merasa seakan ada yang
lepas dalam diri ini. Aku semakin bingung apa yang sedang dia pikirkan. Seakan
dia menjauh, menjaga jarak diantara kami. Jujur saja memang hubungan tang
terbilang cepat ini membuat aku nyaman juga takut. Semua pikiran tercampus aduk
antara gelisah akan kejauhan ini dan bingung atas kerakutan ini.
“Ketekku” satu kata dalam pesan yang biasanya
selalu membuat aku semakin yakin untuk melakukan segala aktivitas. Semakin
tertantang untuk melawan rasa malas dan semakin semangat dalam belajar membaca
segala kondisi yang memang seharusnya aku lakukan. Pesan-pesan yang mengiringi
pesan singkat itu juga membuat aku semakin harus lebih yakin dan yakin lagi
tentang bagaimana mendewasakan pikiran atas hal-hal atau masalah yang memang
tidak bisa kita hentikan kedatangannya. Sebab itulah hakikat kehidupan kita ini
selalu tuhan ciptakan secara berimbang antara kebahagiaan dan masalah dibalik
kebahagiaan itu sendiri.
Senja saat bersamanya adalah senja-senja terbaik
tanpa harus memotretnya lagi dan lagi. Cukup potret mata ini saja yang menjadi
bukti keindahan senja yang selalu aku gambarkan dalam otak ini ke saraf-saraf
di tubuhku akan keindahannya. Itulah sebabnya hubungan ini menderu senja yang
semakin hari semakin tidak ada jawaban. Yang ada hanya pertanyaan-pertanyaan
baru yang terus hadir bersama kesehariaan ku, bersama rindu-rindu juga bersama
kisah yang pernah kita jalani.

Tidak ada komentar