Breaking News

Fotografi sebagai Bahasa Visual yang Jarang Dipahami secara Mendalam



            Fotografi masuk ke Indonesia pertama kali pada masa kolonial yang berfungsi sebagai bahan laporan. Sebagai seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi, fotografi menjadi salah satu aspek penting dalam perkuliahan. Ada beberapa mata kuliah wajib tentang fotografi, yaitu fotografi jurnalistik. Dimana mata kuliah itu tentunya harus menjadi dasar pemahaman para mahasiswa. Dalm buku Literasi Visual karya Taufan Wijaya, penulis menyimpulkan bahwa literasi visual berguna untuk memahami hubungan antara apa yang kita lihat, apa yang kita pilih agar dilihat oleh orang lain, apa yang orang pilih untuk dilihat, dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri.
Beberapa waktu lalu saya mengikuti workshop fotografi yang terfokus pada bidang photo story. Membuat saya semakin banyak memahami tentang segala kebutuhan dan ada hal-hal yang nantinya akan berubah, tanpa kita sadari. Dalam hal itu fotografi menjadi medium untuk mendokumentasikan segalanya. Dan dalam workshop itu juga saya menemukan bahasan baru seputar fotografi kritis dan bagaimana literasi visual yang minim di negara kita. Sehingga tertinggal jauh dari beberapa negara lain. Cartier-Bresson dalam wawancara dengan Alain Desvergnes pada 1979 menyebut fotografi, “Adalah jalan untuk mempertanyakan dunia dan mempertanyakan dirimu di waktu yang sama.”
Dengan pengalaman itu, saya kaitkan kembali saat perkuliahan fotografi. Saya dan teman-teman di kampus hanya mempelajari seputar sejarah fotografi itu sendiri dan bagian-bagian dalam foto jurnalitik. Dan saya pikir bahwa fotografi kritis seharusnya juga diterapkan menjadi bagian pembelajaran, agar mahasiswa-mahasiswa komunikasi juga semakin kritis dalam melihat keadaan sekitar dan lingkungan dimana mereka berada. Belajar untuk peka da peduli dengan sekitar kemudian menuangkan cerita itu lewat visual. “Literasi visual mampu membangun wacana, menciptakan perubahan dan membentuk sejarah modern”, Taufan Wijaya dalam buku Literasi Visual.


Fotografi juga bisa sebagai penyampai pesan. Tapi apakah dengan minimnya literasi visual itu mempengaruhi hal-hak lain diluar bidang. Atau kurang berkembangnya literasi visual di Indonesia juga karena aspek minimnya budaya literasi dalam membaca dan menulis juga. Beberapa aspek dan faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi. Seiring perkembangan zaman, masyarakat di Indonesia terutama para mahasiswa terlihat tidak ingin merasakan kerumitan untuk memahami bidang-bidang perkuliahan. Padahal, hal tersebut banyak mengajarkan makna baru. Dan di beberapa negara lain sudah jauh maju membahas hal-hal seperti fotografi kritis salah satunya.

“Bagi saya mata kuliah fotografi dikampus kurang memadai, karena tidak ada alat-alat penunjang. Sehingga saya juga teman-teman lain dikampus kurang memahami. Dan mata kuliah fotografi hanya sebagai syarat untuk memenuhi mata kuliah dikampus. Padahal saya sangat ingin memahami fotografi itu sendiri, mungkin dilain kesempatan semoga saya bisa memahami fotografi seperti teman-teman saya diluar kampus yang fokus terhadap perkembangan fotografi”, tutur Ivana Silvy mahasiswi Ilmu Komunikasi Uin Suska Riau. Pada akhirnya banyak mahasiswa punya keinginan untuk mengembangkan pengetahuan. Hanya saja fasilitas kurang mampu memadai untuk mereka di akademis. Mungkin dengan adanya workshop tentang fotografi seperti yang saya ikuti, bisa menjadi jembatan untuk mahasiswa-mahasiswa juga masyarakat lebih paham dan mengikuti perkembangan untuk lebih maju.






Tidak ada komentar

Penerapan WFH di Kota Pekanbaru

  PEKANBARU - Penularan covid-19 semakin meningkat dari hari ke hari, tidak terkecuali kota Pekanbaru. Tercatat enam o...